DISHUB - Pengumuman Penyediaan Jasa Pemungutan Retribusi Penyediaan Tempat Parkir Kendaraan Umum Di Dalam Terminal Barang dapat dilihat pada menu unduhan               Kebersihan - Mari bersama kita jaga kebersihan dan keindahan Kota Dumai               Sudahkah Anda mengurus izin? - Uruslah izin Anda di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu               

Selengkapnya...
Selasa, 2 Juni 2009 01:54 WIB
Pendidikan Gratis Membingungkan

Dumai -- Pendidikan gratis yang dicanangkan oleh pemerintah pusat dengan iklannya yang sangat luar biasa membingungkan masyarakat banyak. Kadisdik Kota Dumai Drs Rusli Alhamidi menilai apa yang dikatakan oleh pusat tidak masuk akal, karena pendidikan gratis yang dijelaskan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Karenanya instansi terkait seperti Disdik sering dikatakan tidak serius menangani permasalahan pendidikan gratis.

Hal itu menurut Rusli, berawal dari pertemuan Disdik dengan pihak Depdiknas di Medan beberapa waktu yang lalu. Menurutnya iklan pendidikan gratis yang dibuat memberikan asumsi masyarakat bahwa pendidikan itu gratis semua. Padahal ada beberapa item yang tidak gratis. Dengan demikian iklan pendidikan gratis itu membenturkan unsur pendidik termasuk Disdik, sekolah dengan masyarakat banyak.

‘’Iklan yang dibuat oleh pusat terkait pendidikan gratis itu tidak semuanya benar. Ternyata dibalik iklan itu untuk Rintisan Sekolah Bertarap Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertarap Internasional (SBI) tidak gratis. Di Kota Dumai ada satu sekolah RSBI. Dengan demikian orang tua murid yang anaknya bersekolah di RSBI berfikiran pendidikan semua gratis dan mengapa mesti bayar semuanya,’’ papar Rusli Alhamid Senin (1/6).

Selain RSBI dan SBI, juga hanya digratiskan untuk iuaran BP3 dan lima buku untuk SD serta lima buku untuk SMP. Padahal untuk SD ada 10 buku yang harus dimiliki murid, dan SMP ada sebnyak 12 buku.

‘’Sisanya tentu dibebankan kepada orang tua murid. Ini juga sering dipertanyakan. Katanya pendidikan gratis mengapa masih membeli buku. Kenyataan di lapangan terjadi seperti itu. Lain lagi soal baju dan sepatu. Itu juga harus ditanggung oleh orang tua murid, semuanya semakin membingungkan masyarakat dengan pendidikan gratis yang dikatakan oleh pusat itu,’’ katanya.

Dalam pertemuan di Medan, sebut Drs Rusli Alhamidi lagi, pihaknya dengan beberapa Dinas Pendidikan lain se-Riau mengatakan kekecewaannya dengan iklan pendidikan gratis yang gaung-gaungkan pusat. Dampaknya akan berimbas kepada masing-masing daerah yang menangani pendidikan gratis program pusat tersebut.

‘’Bukan tidak boleh iklan tersebut diterbitkan, namun harus dijelaskan semuanya, karena tidak semua masyarakat kita di daerah itu mengerti dan paham dengan itu semua. Apa yang terdengar dari masyarakat, itulah yang dituntut dari semua lembaga pendidikan negeri di daerah ini,’’ katanya.

Jika hanya iuran BP3 dan beberapa buku saja yang gratis, maka item itu saja seharusnya yang disebutkan. Bukan lantas mengatakan pendidikan itu gratis. Ini kesannya bahwa semua saranan pendidikan itu digratiskan. Padahal makna sebanarnya bukan demikian, karena masih ada rupanya dari yang digratiskan itu tetap harus mengeluarkan dana. Ini dibebankan kepada murid. Masyarakat yang mempunyai anak sekolah di SD dan SMP pun tidak akan bingung lagi ketika menyaksikan iklan pendidikan gratis itu.***

Dibaca 734 kali
Penulis/Editor : Admin /
 


 Komentar :

   ( Komentar berita ini telah ditutup dan tidak ada komentar untuk berita ini! )


 Info Terkait

( Tidak ditemukan berita terkait! )

Jl. Tuanku Tambusai, Dumai, Riau - 28826, telp. (+62 atau 0 765) 440093, e-mail : kominfo@dumaikota.go.id
Dikembangkan oleh Bagian Komunikasi Dan Informatika Kota Dumai @ 2013, © 2019
Tampilan standar : Browser-nya Firefox terbaru | Resolusi layarnya 1280 X 768 pixel | JavaScript harus aktif